"Bagaimana Hadis Sampai ke Kita? Kenali Sanad, Matan, dan Rawi" - Ma'had Aly Balekambang
Diskusi,  Hadis

“Bagaimana Hadis Sampai ke Kita? Kenali Sanad, Matan, dan Rawi”

“Hadis bukan sekadar kumpulan kata-kata Nabi Muhammad SAW, melainkan warisan yang sampai kepada kita melalui rangkaian emas para perawi. Memahami sanad, matan, dan rawi adalah cara terbaik dalam menghormati keaslian pesan Rasulullah”.

Di zaman sekarang, pembelajaran tentang ilmu hadits sering kali terlewatkan bahkan sampai ditinggalkan. Fokusnya lebih kepada isi atau substansi hadits bukan pada bagaimana hadits tersebut sampai kepada pembaca. Apalagi publik sering kali menerima dengan mentah-mentah ribuan bahkan puluhan hadits tanpa tau sumber hadits tersebut diambil. Padahal sangat menarik sekali apabila pembaca mengetahui sekilas rangkaian pokok hadits yang meliputi: sanad, matan dan rowi.

Pertama, sanad adalah rangkaian perowi hadits (orang yang menyampaikan hadits) dari satu generasi ke generasi berikutnya sampai hadits itu diterima oleh pembaca. Ringkasnya sanad bagaikan rantai yang menghubungkan sumber hadits berasal  (nabi Muhammad Saw) dengan orang orang yang menyampaikannya. Maka tidak jarang ditemukan dalam kitab induk hadits suatu perkataan “haddatsana Zuhri ‘an Malik ‘an ibn umar”  (Zuhri menyampaikan kepada kami dari Malik dari Ibnu Umar). hal demikianlah yang disebut sanad. Tanpa sanad, hadits adalah sebatas kabar burung yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Sebagaimana disampaikan oleh Sayyid Muhammad Alawi dalam kitab manhal al-lathif:

السَّنَدُ: هوَ الطَّريق الموصلة إلى المتن – أي الرجال الموصلونَ إلى متن الحديث – شيخاً عن شيخ، إلى أن يصل إلى لفظ الحديث. وسُمِّيَ الطَّريق سنداً، لاعتمادِ الحُفَّاظ عليه في الحكم على الحديث

Artinya: “sanad adalah jalan yang mengantarkan pada redaksi hadits – yaitu orang-orang yang menyampaikan teks hadis – guru dari guru dan seterusnya, hingga mencapai isi (substansi ) hadis. Jalan tersebut disebut sanad ( dalam segi bahasa berarti penopang), karena pakar hadits menjadakinnya sebagai penopang  dalam menilai kebenaran hadis”[1].

Kedua, matan adalah inti sebuah hadits yang berasal dari perkataan (aqwal), perbuatan (af’al), keputusan (taqrir) sekaligus sifat (wasf) nabi Muhammad Saw. Disinilah pesan moral, hukum, kisah para pendahulu dan untaian hikmah terkandung. Matan ditemukan setelah selesainya runtutan sanad[2]. Seperti anjuran nabi Muhammad untuk menyampaikan syariat islam darinya meskipun hanya sedikit yang tertuang dalam sabdanya:

بلغوا عني ولو آية، وحدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النار[3]

Artinya: Sampaikanlah meskipun hanya satu ayat dariku, dan ceritakanlah kisah Bani Israil, maka tidak ada salahnya, barangsiapa yang sengaja berdusta dengan mengatasnamakan diriku, maka tempatilah neraka.

Redaksi inilah yang disebut sebagai matan (isi yang diambil pelajaran oleh orang orang).

Ketiga, Rowi adalah orang yang menyampaikan matan dan sanad hadits. Mereka adalah penerima sekaligus penyampai hadits. Para rawi adalah orang-orang terpercaya dan terpilih untuk menjaga amanah, mencatat, menghafal,meriwayatkan sekaligus penerus estafet warisan Rosulullah saw. Dalam keilmuan hadits, Setiap rawi diperiksa integritas dan hafalannya oleh para ulama. Karena dari mereka-lah, hadits bisa sampai kepada pembaca dengan utuh.

Jadi ringkasnya, sanad adalah jalurnya, rawi adalah penyampainya, sedangkan matan adalah isi pesannya. Tiga elemen ini saling melengkapi dan menjadi pondasi kuat dalam menjaga keaslian warisan kenabian sebagai pedoman keseluruhan ummat islam.

Implementasi dalam hadits Nabawi

Penulis disini akan memberikan satu contoh yang diambil dari Hadits dalam kitab shohih Bukhori, tepatnya bab Al Muslim man salimal Muslimun min lisanihi wa yadihi sebagai berikut:

حدثنا آدم بن أبي إياس قال: حدثنا شُعْبَةُ عن عبد الله بن أبي السَّفَرِ وَإِسماعيلَ عَنِ الشعبي عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما عن النبي ﷺ قال: الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ من لِسَانِهِ وَيَدِهِ ، والمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ ما نَهى الله عنه [4].

Artinya: Adam bin Abi Iyas menceritakan kepada kami, beliau berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Abi Al-Safar, dan Ismail, dariAl-Syu’bi, dari Abdullah bin Amr, radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda: “Seorang muslim adalah orang yang lidah dan tangannya membuat orang Islam disekitarnya aman, dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan Apa yang telah dilarang oleh Allah SWT.

  • Matan hadits:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ من لِسَانِهِ وَيَدِهِ، والمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ ما نَهى الله عنه

  • Sanad hadits:

حدثنا آدم بن أبي إياس قال: حدثنا شُعْبَةُ عن عبد الله بن أبي السَّفَرِ وَإِسماعيلَ عَنِ الشعبي عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما عن النبي ﷺ

  • Rowi hadits:
    1. Abdullah ibn umar
    2. Syu’bi
    3. Abdullah bin Abi safar dan Ismail
    4. Syu’bah
    5. Adam bin Abi Iyas
    6. Al-Bukhori

Refrensi:

[1] Muhammad bin Alawi, Al-Manhal Al-Lathif, Hal 42.

[2] Mahmud Thohan, Taisir Mustholah Al-Hadits, (Myanmar: Maktabah Al-Haramain) 19.

[3] Abu Abdillah Muhammad Al-Bukhori, Shohih Al-Bukhori (Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1993), 3, 1275.

[4] Abu Abdillah Muhammad Al-Bukhori, Shohih Al-Bukhori (Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1993), 1, 13.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *